Shalat tasbih merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar, karena di dalamnya terdapat bacaan tasbih dalam jumlah tertentu. Di tengah masyarakat, sering muncul anggapan bahwa shalat tasbih hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan di berbagai daerah yang melaksanakannya secara berjamaah pada malam-malam Ramadan, terutama setelah shalat Tarawih. Dari sinilah timbul pertanyaan: apakah shalat tasbih memang khusus untuk Ramadan, atau boleh dilakukan di waktu lain?

Pada dasarnya, shalat tasbih adalah shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagai sarana memperbanyak tasbih dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, dibaca kalimat tasbih “Subhānallāh wal-ḥamdu lillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar” sebanyak 300 kali dalam empat rakaat, yakni 75 kali pada setiap rakaat. Para ulama sepakat bahwa hukumnya sunnah, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai kekuatan hadis yang menjadi landasannya.

Baca Juga: Istighfar, Jalan Pulang yang Tenang 

Anjuran shalat tasbih bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Abu Rāfi‘, di mana Rasulullah SAW menjelaskan tata cara dan keutamaannya kepada Al-‘Abbās bin ‘Abdul Muththalib. Hadis ini banyak dikutip dalam kitab-kitab fikih, walaupun sebagian ulama menilai sanadnya lemah (ḍa‘īf).  Hal ini dapat dilihat dalam hadis berikut ini:

) حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ العَلَاءِ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ العُكْلِيُّ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُبَيْدَةَ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلْعَبَّاسِ: «يَا عَمِّ أَلَا أَصِلُكَ، أَلَا أَحْبُوكَ، أَلَا أَنْفَعُكَ»، قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «يَا عَمِّ، صَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكعَةٍ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَسُورَةٍ، فَإِذَا انْقَضَتِ القِرَاءَةُ، فَقُلْ: اللهُ أَكْبَرُ، وَالحَمْدُ لِله، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً قَبْلَ أَنْ تَرْكَعَ، ثُمَّ ارْكَعْ فَقُلْهَا عَشْرًا، ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا، ثُمَّ اسْجُدْ فَقُلْهَا عَشْرًا، ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا، ثُمَّ اسْجُدْ الثانية فَقُلْهَا عَشْرًا، ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا قَبْلَ أَنْ تَقُومَ، فَتِلْكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكعَةٍ وَهِيَ ثَلَاثُ مِائَةٍ فِي أَرْبَعِ رَكعَاتٍ فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُكَ مِثْلَ رَمْلِ عَالِجٍ لَغَفَرَهَا اللهُ لَكَ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُولَهَا فِي كلِّ يَوْمٍ، قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَقُولَهَا فِي كلِّ يَوْمٍ فَقُلْهَا فِي جُمْعَةٍ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَقُولَهَا فِي جُمُعَةٍ فَقُلْهَا فِي شَهْرٍ، فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُ لهُ، حَتَّى قَالَ: فَقُلْهَا فِي سَنَةٍ».قَالَ أبُوْ عِيْسَى: هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي رَافِعٍ.[1]

Mengenai waktu pelaksanaannya, shalat tasbih tidak terbatas pada bulan Ramadan saja. Shalat ini dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam, selama tidak bertepatan dengan waktu-waktu yang dilarang untuk shalat. Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa jika dikerjakan pada malam hari, lebih utama dilakukan dua rakaat dua rakaat dengan salam terpisah. Sedangkan pada siang hari, boleh dilakukan dua rakaat satu salam atau empat rakaat sekaligus dengan satu salam.

Adapun tata caranya, shalat tasbih dilakukan empat rakaat dengan niat sebagaimana shalat sunnah lainnya. Pada setiap rakaat dibaca tasbih sebanyak 75 kali dengan pembagian tertentu: 15 kali setelah membaca Al-Fatihah dan surat, 10 kali saat rukuk, 10 kali ketika i‘tidal, 10 kali pada sujud pertama, 10 kali saat duduk di antara dua sujud, 10 kali pada sujud kedua, dan 10 kali saat duduk sebelum berdiri ke rakaat berikutnya atau sebelum salam. Total seluruh bacaan tasbih adalah 300 kali.

Baca Juga: Yuk, Maksimalkan Hari Jumat dengan Amalan Ini  

Shalat tasbih memiliki banyak keutamaan, di antaranya sebagai sarana pengampunan dosa, baik kecil maupun besar. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pahala shalat ini sangat besar, dan dianjurkan untuk diamalkan secara rutin, baik setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, setiap tahun, atau setidaknya sekali seumur hidup.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa shalat tasbih tidak hanya dikhususkan pada bulan Ramadan, tetapi dapat dilakukan sepanjang tahun. Ramadan hanyalah waktu yang lebih utama karena keistimewaannya sebagai bulan ibadah. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan shalat tasbih dengan pemahaman yang benar sesuai penjelasan para ulama, agar ibadah yang dilakukan lebih sempurna dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

 



[1] Abu Husan Al-Kabir Muhammad bin Abdul Hadi As-Sanadi, Hasyiyah as-Sanadi ala Sunan at-Turmidzi, Juz. I, (Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2021), h. 433.


0 Komentar