Biografi Singkat Syekh Ahmad Damanhuri
Kelahiran dan Masa Kecil
Beliau bernama lengkap Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Mu’in bin Yusuf bin Shiam ad-Damanhuri al-Mazahibi al-Azhari. Sang Syaikh dilahirkan di sebuah daerah yang bernama Damanhur al-Gharbiyah yang merupakan daerah kecil kemudian berubah menjadi kota Damanhur sebagai ibukota propinsi al-Buhaira. Tepatnya tahun 1101 Hijriyah beliau dilahirkan, tahun kelahiranya bertepatan dengan 1689/1690 Masehi.
Kisah kelahirannya ini kemudian
disebutkan dalam beberapa kitab kontemporer. Meskipun terlihat demikian, namun
mengenai tahun kelahirannya terdapat
riwayat lain yang berbeda hal ini sebagai mana disebutkan oleh salah seorang
penulis yang bernama Ahmad ‘Auf, disana disebutkan bahwa Syaikh Ahmad ad-Damanhuri
dilahirkan pada tahun 1100 H. Sedangkan menurut syekh Abdullah Salamah Nasr yang
kemudian dinukilkan oleh syekh Ali Shubh dan syekh Ahmad Rabi’ menyebutkan bahwa Syaikh
Ahmad ad-Damanhuri dilahirkan pada tahun
1001 H. Yang benar dan dapat diterima dari beberapa riwayat di atas yang
menyebutkan tentang tahun kelahirannya
adalah riwayat yang pertama, hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mukminin
sebagai penulis pada www. sarkubmesir.net
2020.03 dimana tulisan ini penulis
baca dan penulis tuliskan kembali dengan
narasi penulis sendiri.
Guru dan Murid
Syaikh Ahmad ad-Damanhuri merupakan tokoh ensiklopedis terkenal karena ketekunannya dalam mempelajari semua bidang ilmu dan kepiawannya dalam menguasai berbagai cabang ilmu,mulai dari ilmu teologi, syari’ah, akhlak, adab, matematika, kedokteran dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Bayangkan saja beliau mempuai lebih dari 45 orang guru merupakan guru-guru besar semua. Diantara guru-gurunya adalah sebagai berikut:
Syekh Ali Za’tari, Syekh Abduddaim, Syekh Syihabuddin al-Khulaifi, Syekh Abdul Jawwad al-Marhumi, Syekh Abdurrauf Al-Bisybisyi, Syekh Ahmad bin Ganim, Syekh Salamah Al-Fayumi dan beberapa guru besar lainnya yang beliau tulis dalam kitabnya al-Lathāif an-Nūriyah fi al-Minah (fil Asanid) ad-Damanhūriyah.
Syaikh Ahmad ad-Damanhuri ini sering disebutkan dengan seorang yang pelit, maksudnya orang pelit dalam bidang keilmuan. Beliau tidak mementingkan kuantitas (murid yang banyak), beliau hanya mengejar kualitas, maka tidak heran jika tidak semua orang mampu belajar dan mengambil ilmu darinya hanya orang-orang tertentu dengan semangat belajar tinggi sajalah yang menjadi santri-santri beliau. Diantara santri-santrinya adalah sebagai berikut: Syekh Syarqawi, Syekh Yusuf al-Ghazi, Syekh Abdul Hadi Naja al-Absyari, Syekh Ibrahim bin Musthafa Al-Halabi, Syekh Ali al-Armanazi, Syekh Daud al-Qal’awi, dll.
Karya-karya
Beliau ini seorang ulama besar yang dalam dirinya mengalir deras berbagai cabang ilmu pengetahuan yang mendorong dirinya untuk menjadi ulama yang sangat produktif,beliau telah banyak menulis berbagai kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga kemudian beliau disebut sebagai Imam jalaluddin As-Suyuthi kedua. Karangan beliau ini disebut-sebut sudah menyamai karangan Imam Jalaludin As-Suyuthi hanya saja tulisannya tidak di cetak semua, sebagian masih berupa manuskrib (tulisan tangan) yang disimpan dibeberapa tempat dan membutuhkan tulis ulang. Adapun karangan beliau yang sangat populer di Indonesia adalah Kitab Idhah al-Mubham dalam ilmu mantiq, kitab Hilyah Al-Lubb Al-Mashun dalam ilmu balaghah. Diantara karya-karya beliau dalam disiplin ilmu yang lain adalah sebagai berikut:
Al-Qaul ash-Sharīh fi ‘Ilm at-Tasyrīh (kedokteran);
Iqāmah al-Hujjah al-Bāhirah ‘ala Hadmi Kanāis Misr wa al-Qāhirah;
'Ain al-Hayāh fistinbath al-Miāh (geologi);
Al-Fath ar-Rabbāni bi Mufradāt Ibnu Hanbal As-Syaibāni (hadis);
Nihāyah at-Ta’rīf bi Aqsām al-Hadīts ad-Dha’īf (ulumul hadis);
Sabīl al-Rasyād ila Naf’il ‘Ibad (nasehat);
Manhaj as-Sulūk ilā Nashīhah al-Mulūk (politik);
Ad-Durrah al-Yatīmah fī as-Shun’ah al-Karīmah (kimia);
Ihya’ al-Fawād bi Ma’rifah al-Khawāsh al-A’dād; dan masih banyak lagi.
Kisah saat menjadi Grand Syaikh al-Azhar
Sudah barang tentu, Sesudah menghabiskan semua waktunya selama puluhan tahun dalam pegabdiannya sebagai pelajar dan pengajar para penuntut ilmu dari bermaca-macam pelosok negeri, beliau akhirnya diberikan amanah untuk tugas mulia menjadi pimpinan tertinggi Universitas negeri piramida, yaitu Universitas al-Azhar Pada tahun 1182 H/1768 M beliau secara resmi diangkat menjadi grand syekh Universitas al-Azhar dan sekaligus menggantikan kepemimpinan syekh Abdul Rauf as-Sajini yang sudah purba tugas.
Adapun yang mengatakan bahwa beliau menggantikan syekh al-Hifni (bukan as-Sajini) seperti yang dikatakan Muhammad Murad dan al-Jabarti tidaklah benar, padahal beliau sezaman, tapi bisa jadi karena lupa sebagaimana tabiatnya manusia yang bisa salah dan lupa. Hal itu di karenakan setelah wafatnya syekh al-Hifni, syekh Abdul Rauf as-Sajini pernah menjabat sebagai grand syekh selama satu tahun.
Wafat
Tepatnya pada hari Ahad, 10 rajab 1192 H/3 Agustus 1778 M dikediamannya di Buraq yang merupakan suatu tempat yang berada di tepian singai Nil beliau menghembuskan nefas terakhirnya dalam usia 91 tahun. Dimana saat itu beliau sudah berkhikmad den mendedikasikan ilmunya sebagai Grand Syekh di Universitas tersebut selama sepuluh tahun lamanya.
Sedangkan riwayat yang menerangkan bahwa beliau wafat pada tahun 1190 H/1776 M, ini merupakan riwayat yang lemah, dengan argumen bahwa kekosongan kursi kepemimpinan Universitas al-Azhar lebih kurang selama 2 tahun. Riwayat pertama (1192 H) didukung dengan apa yang ditulis oleh keturunannya pada pintu makam beliau tentang waktu lahir dan wafatnya, begitu juga dengan informasi yang ditulis oleh al-Jabarti dalam kitabnya. Apalagi lagi al-Jabarti masih sezaman dengan syekh ad-Damanhuri.

0 Komentar