Di zaman sekarang, peran media terutama media sosial telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Siapa pun bisa menjadi terkenal dalam waktu singkat, bahkan tanpa memiliki nilai, kontribusi nyata, atau integritas yang jelas. Lebih mengkhawatirkan lagi, tidak sedikit yang justru dikenal karena sensasi, manipulasi, atau bahkan penipuan. Popularitas seakan menjadi mata uang baru dalam masyarakat digital. Ukuran kesuksesan pun berubah drastis: bukan lagi kualitas karya, kedalaman ilmu, atau manfaat yang diberikan, melainkan jumlah penonton, likes, shares, dan seberapa cepat sesuatu menjadi viral.

Fenomena ini melahirkan sebuah cara berpikir yang keliru semacam “logika massa” di mana sesuatu yang ramai dibicarakan dianggap benar, dan yang sepi dianggap tidak penting atau bahkan salah. Padahal, jika kita renungkan lebih dalam, keramaian tidak selalu identik dengan kebenaran. Banyak hal yang viral justru dangkal, menyesatkan, atau tidak memiliki dasar yang kuat. Dalam perspektif Islam, hal ini sudah lama diingatkan. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa mayoritas manusia sering kali tidak berilmu, tidak menggunakan akal secara jernih, bahkan cenderung mengikuti prasangka.

Ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikut atau banyaknya dukungan. Kebenaran berdiri di atas dalil, wahyu, dan akal yang sehat. Islam mengajarkan bahwa nilai seseorang bukan terletak pada seberapa terkenal ia di mata manusia, tetapi pada keikhlasan hati dan kualitas amalnya di hadapan Allah. Seseorang yang tidak dikenal di dunia bisa jadi sangat mulia di sisi-Nya, sementara yang dielu-elukan manusia belum tentu memiliki nilai yang sama.

Namun, tantangan di era media sosial adalah derasnya arus informasi yang sering kali tidak disaring dengan baik. Banyak orang dengan mudah percaya pada apa yang mereka lihat atau baca, tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi). Lebih parah lagi, mereka langsung menyebarkannya tanpa memastikan kebenarannya. Dalam hitungan detik, sebuah informasi baik benar maupun salah bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Sayangnya, kebohongan sering kali menyebar lebih cepat daripada kebenaran, karena biasanya dibungkus dengan sensasi yang menarik emosi.

Kondisi ini tentu sangat berbahaya. Ketika masyarakat terbiasa menerima informasi tanpa verifikasi, maka yang terjadi adalah kaburnya batas antara fakta dan opini, antara kebenaran dan kebohongan. Pada akhirnya, opini publik bisa dibentuk oleh sesuatu yang sebenarnya rapuh dan tidak berdasar. Di sinilah pentingnya kesadaran individu untuk tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.

Lebih jauh lagi, masyarakat kini seolah menjadi “penentu nilai” secara kolektif. Apa yang viral dianggap baik, apa yang trending dianggap layak diikuti. Padahal, kebenaran tidak pernah bergantung pada voting atau suara terbanyak. Dalam sejarah, banyak kebenaran yang justru datang dari kelompok kecil, bahkan sering kali ditolak oleh mayoritas. Kebenaran sering tampak asing di tengah keramaian, karena ia tidak selalu sejalan dengan hawa nafsu atau kepentingan manusia.

Di sisi lain, muncul juga fenomena krisis kepercayaan diri di kalangan sebagian Muslim. Ada perasaan bahwa Islam perlu “dibela” atau “dibuktikan” di hadapan peradaban lain, seolah-olah ia belum cukup kuat. Padahal, jika dipahami dengan benar, Islam adalah sistem yang sempurna, yang datang dari Zat Yang Maha Mengetahui. Ia mencakup aspek kehidupan yang luas dari akidah, ibadah, hingga sosial dan moral dengan prinsip yang kokoh dan rasional.

Justru yang perlu dikritisi adalah sistem-sistem buatan manusia yang sering kali penuh dengan kelemahan. Banyak ideologi modern yang terlihat menarik di permukaan, tetapi menyimpan berbagai masalah, baik dari segi moral, keadilan sosial, maupun ketenangan batin. Sementara itu, Islam menawarkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara hak individu dan tanggung jawab sosial, serta antara kebebasan dan batasan yang bijak.

Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu merasa rendah diri atau bergantung pada pengakuan dunia untuk membenarkan ajarannya. Islam tidak membutuhkan validasi dari standar manusia, karena ia sendiri adalah standar kebenaran. Tugas seorang Muslim adalah memahami ajarannya dengan baik, mengamalkannya dengan konsisten, dan menyampaikannya dengan hikmah.

Pada akhirnya, kita perlu kembali pada prinsip dasar: jangan mengukur kebenaran dengan viralitas. Jangan menjadikan popularitas sebagai tolok ukur nilai. Dan yang tidak kalah penting, jangan mengikuti tren tanpa ilmu. Setiap informasi yang kita terima perlu ditimbang dengan hati-hati, menggunakan akal sehat dan panduan wahyu.

Di tengah hiruk-pikuk “peradaban view” yang serba cepat dan dangkal, menjaga kejernihan berpikir adalah sebuah tantangan sekaligus tanggung jawab. Kita dituntut untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi individu yang kritis, selektif, dan berprinsip. Mencari kebenaran membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keberanian untuk tidak selalu sejalan dengan arus.

Menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Karena pada akhirnya, yang bernilai bukanlah seberapa banyak orang yang mengikuti kita, tetapi seberapa dekat kita dengan kebenaran itu sendiri.

 

 

0 Komentar